بِسْــــــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Artikel By: Ustadz Arif Gunawan

Para ulama mendefinisikan muru’ah dengan ungkapan, “Berbuat sesuatu untuk memperindah diri serta meninggalkan sesuatu yang mengotorinya dan memperburuknya, baik perbuatan itu berkaitan dengan dirinya sendiri maupun berkaitan dengan orang lain.”

  • Hakikat muruah adalah berpegangnya jiwa manusia dengan sifat-sifat kemanusiaan yang menjadikannya berbeda dengan hewan dan setan yang terkutuk. Hal itu karena di dalam jiwa manusia ada tiga pendorong yang saling menarik, yaitu:
    Pendorong yang mengajak jiwa manusia untuk mengambil akhlak-akhlak setan, seperti takabur, dengki, sombong, melampaui batas, sewenang-wenang, berbuat jahat, berbuat kerusakan, dan menipu.
  • Pendorong yang mengajak jiwa manusia untuk mengambil akhlak-akhlak hewan. Ini adalah pendorong syahwat.
  • Pendorong yang mengajak jiwa manusia untuk mengambil akhlak-akhlak malaikat, seperti berbuat baik, memberi dan menerima nasihat, taat, serta berilmu.

Muruah adalah membenci dua pendorong yang pertama dan memenuhi ajakan pendorong yang ketiga. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa muruah adalah kemenangan akal atas syahwat.

Muruah setiap sesuatu memiliki ukurannya tersendiri. Muruah lisan adalah dengan tutur kata yang manis, baik, dan lemah lembut. Muruah akhlak adalah dengan akhlak baik kepada orang yang disukai ataupun kepada orang yang dibenci. Muruah harta adalah mendistribusikannya secara tepat ke tempat-tempat yang terpuji menurut syara’, akal, dan adat. Muruah jabatan adalah memberikan-nya kepada orang yang membutuhkannya.

Muruah terhadap diri sendiri adalah membawa diri secara paksa kepada perkara yang memperindah lalu menghiasinya, serta meninggalkan perkara yang memperburuk dan menimbulkan cacat kepadanya. Hal itu agar menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dalam rahasia dan kesendiriannya, hendaklah ia mempertimbangkannya ketika ia melakukannya secara terang-terangan. Inti dari itu, ketika dalam keadaan sepi, hendaklah seseorang jangan melakukan perkara yang memalukan, kecuali perkara yang tidak dilarang syariat dan akal serta perkara itu hanya dilakukan ketika dalam keadaan sepi, misalnya berhubungan suami istri, buang hajat, dan sebagainya.

*Muruah kepada orang lain& diperoleh dengan menjaga kesopanan, rasa malu, akhlak yang mulia, dan tidak memperlihatkan perkara yang ia benci kepada mereka.

Muruah kepada Alloh ta’ala diperoleh dengan merasa malu kepada-Nya, karena Dia selalu memandang dan mengawasi gerak-gerik seorang hamba.

.
.
.
website : www.khairulummah.sch.id
Instagram : @khairul_ummah
Twitter : @PPKUBatuGajah
Facebook : pesantren khairul ummah
Email : officialpp.khairulummah@gmail.com
.
.
“Berakhlakul Karimah Unggul Dalam Prestasi”
.

.

#BerakhlakulKarimah #UnggulDalamPrestasi #pesantrendiriau #pesantrentahfidz #santriindonesia #santriberpreatasi #pesantrendiinhu# pesantrenterbaikdiriau #pesantrenterdekat #alumnipesantren #pesantrenterbaik #khairulummah #santrippku

 

Tags: , , , , , , , , ,