Artikel By: Ustadz Abdul Kemal Batubara, Lc, MA

Dua peristiwa bersejarah ini perlu direnungkan karena keduanya saling terkait erat. Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada tahun ke-6 Hijriah. Nabi beserta 1.500 sahabatnya hendak melaksanakan Umrah ke Mekah. Merupakan hak Nabi dan para sahabatnya untuk melakukan Umrah, karena Mekah adalah tanah kelahirannya dan Umrah adalah ibadah yang biasa dilakukan oleh orang Arab.
Ketika Nabi Samapi di desa Hudaibiyah, orang Quraisy menahannya. Lalu terjadilah perjanjian yang akhirnya dinamakan “Perjanjian Hudaibiyah”. Inilah di antara isinya:

  1. Nabi dan sahabatnya pada tahun itu tidak boleh masuk Mekah. Boleh masuk Mekah pada tahun depan dan diberi tenggat waktu selama 3 hari saja
  2. Gencatan senjata selama 10 tahun
  3. Siapa yang ingin bersekutu dengan Nabi atau Quraisy dipersilahkan dengan semua ketentuannya, yaitu tidak boleh saling menggangu.
    Lalu diketahui bahwa Kabilah Khuza’ah bersekutu dengan Nabi dan Kabilah Banu Bakr bersekutu dengan Quraisy. Antara kedua kabilah terjadilah perseteruan yang berkepanjangan sejak lama. Inilah titik yang paling menentukan dalam perjalanan dakwah Islam. Tidak sampai dua tahun, terjadilah apa yang terjadi yang akan membalik keadaan yang menguntungkan kaum muslimin. Kabilah Banu Bakr sekutu Quraisy menyerang Kabilah Khuza’ah di tengah malam. Orang Quraisy ikut terlibat. Ini pelanggaran sangat serius.
    Tanggal 20 ramadhan tahun 8 Hijriah atau 10 Januari 630 M, Nabi akhirnya menyerbu Mekah bersama sekitar 10 ribu sahabatnya. Tanah Mekah akhirnya jatuh ke tangan kaum muslimin. Semua arca di sekitar Ka’bah yang berjumlah 360 buah di hilangkan. Masyarakat berbondong-bondong masuk Islam. Inilah puncak kesuksesan dakwah Nabi. Benteng terakhir pertahanan kaum musyrik jatuh. Agama Islam berkibar. Kesuksesan ini dipuncaki dengan peristiwa Haji Wada’ yang sangat bersejarah.
    Pada tahun ke-9 Hijriah, Nabi memerintahkan Abu Bakar untuk berhaji dan memaklumatkan beberapa hal penting antara lain: tahun depan orang musyrik tidak boleh lagi berhaji. Tak boleh lagi ada orang tawaf bertelanjang. Orang musyrik tidak boleh berkeliaran lagi di Mekah. Setelah Mekah steril dari orang musyrik dan praktik syirik, Nabi dan lebih dari 120.000 sahabatnya melaksanakan Haji Wada’ pada tahun ke-10 Hijriah. Pada saat haji itulah Nabi menggunakan momentum ini untuk menyampaikan khutbah perpisahan yang demikian bersejarah. Isinya mendunia, sangat mengaduk-aduk emosi para sahabat. Deraian air mata mereka pecah. Kata Nabi, “Tahun depan mungkin aku tak akan lagi bertemu dengan kalian.”
    Demikian indah cara Allah mengatur jalannya sejarah Islam. Bagaimana jadinya jika kota Mekah tak bisa direbut oleh kaum muslimin? Tentu kemusyrikan tetap merajalela. Sementara umur Nabi tinggal beberapa tahun lagi. Nabi meninggal pada bulan Maulid tahun ke-11 Hijriah atau 632 M atau 3 bulan setelah Haji Wada’.
    Pilihan Allah selalu terbaik tetapi karena ketidaktahuannya manusia kadang tak sepenuhnya menerima keputusan Allah dalam lika-liku kehidupannya. Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang patuh atas semua ketentuan-Nya agar kita bisa menjalani kehidupan ini dengan ikhlas, tenang, dan damai.

Penulis: Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad

(Oase Al-Qur’an untuk Haji & Umrah, hal. 81-84)

.
.
.
website : www.khairulummah.sch.id
Instagram : @khairul_ummah
Twitter : @PPKUBatuGajah
Facebook : pesantren khairul ummah
Email : officialpp.khairulummah@gmail.com
.
.
“Berakhlakul Karimah Unggul Dalam Prestasi”
.

.

#BerakhlakulKarimah #UnggulDalamPrestasi #pesantrendiriau #pesantrentahfidz #santriindonesia #santriberpreatasi #pesantrendiinhu # pesantrenterbaikdiriau #pesantrenterdekat #alumnipesantren #pesantrenterbaik #khairulummah #santrippku

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,